Rabu, 09 Januari 2013

Jadilah Seorang Mukmin Seperti Gandum



Dalam sebuah hadis Anas bin Malik, Rasulullah pernah bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin itu seperti setangkai gandum, terkadang condong terkadang tegak”. (Riwayat Abu Ya’la. Isnadnya hasan)
Untuk mengetahuai maksud diatas, coba kita perhatikan lading gandum atau padi. Ketika angina bertiup lembut, tangkai mayangnya melambai-lambai dengan anggun. Ketika angina kembali tenang, mereka tegak lagi dengan indahnya. Bila angina bertup lebih keras yang sanggup mematahkan cabang-cabang pohon besar dan bahkan mencabutnya sampai ke akar, pohon gandum dan padi ternyata juga rebah, akan tetapi akarnya tidak tercabut. Maka demikianlah seharusnya seorang mukmin. Dimana ujian dan cobaan menerpanya dari segala penjuru dan terkadang dia harus terjatuh namun keyakinannya kepada Allah tifdak pernah gugur.
Seorang mukmin memiliki prinsip-prinsip yang terang dalam menjalani kehidupannya, karena setiap sikapnya dilandasi ilmu dan keyakinan. Ia tidak sekedar ikut-ikutan, apalagi terhanyut oleh trend dan mode. Maka dalam segala situasi dia mantap dan percaya diri, karena tahu betul bahwa dirinya berada di atas kebenaran.
Sekilas mungkin dia bisa terkesan sombong. Namun, ada perbedaan besar antara kesombongan dengan keyakinan. Kesombongan dilandasi penolakan terhadap kebenaran dan dikobarkan oleh nafsu untuk meremehkan sesama, sementara keyakinan didasri oleh ilmu dan iman. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat biji sawi”. Ada yang berkata, “Sungguh seseorang itu ingin bajunya bagus, demikian pula sandalnya”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia pun mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (Riwayat Muslim)
Sebaliknya, keteguhan seorang mukmin adalah refleksi iman, sebagai pengamalan dari sabda Rasulullah ini, “Janganlah kalian menjadi orang yang plin-plan, yang berkata: jika orang baik kami pun baik; jika mereka zhalim kamipun zhalim. Akan tetapi teguh dari kalian. Jika mereka baik, hendaknya kalian pun baik, dan jika mereka berbuat keburukan, maka janganlah kalian ikut menjadi zhalim”. (Riwayat at-Tirmidzi dan al-Bazzar, dari Hudzaifah. Hadis hasan-gharib)
Inilah yang disebut shiddiq, salah satu sifat yang sangat mulia. Secara bahasa shiddiq artinya jujur dan benar. Apa yang dimaksud jujur dan benar di sini tidak hanya perkataan, namun lebih luas lagi. Kejujuran seorang shiddiq juga juga terlihat dalam perbuatannya, tindak-tanduknya, isi hatinya, pikirannya, cita-citanya, dan seterusnya. Pendeknya, seluruh aspek kepribadiannya adalah jujur dan benar, bukan kebohongan dan rekayasa. Ia adalah muslim ketika sendirian maupun di hadapan orang banyak.
Ia adalah orang baik-baik, entah saat lapang atau sempit, saat berkuasa atau saat menjadi rakyat jelata. Ada kesempatan maupun tidak, dia tetaplah orang yang sama baiknya. Tentu saja, seseorang yang tiba-tiba menjadi baik dan dekat dengan masyarakat menjelang Pemilu dan Pilkada, bukan penyandang sifat shiddiq, kecuali jika sudah seperti itu sejak dulu, dan akan tetap demikian sampai akhir hayatnya. Kita dapat menyebut seorang mukmin sebagai pribadi yang memiliki integritas tinggi.


Senin, 07 Januari 2013

Rasulullah SAW Sebagai Teladan Sehari-hari



Allah telah memilih dan mengangkat para rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Melalui Nabi Muhammad SAW, Islam mengatur segala hal, bahkan hingga masalah kecil dan remeh yang tak pernah dibayangkan akan dibahas. Mulai dari bersuci, berhubungan suami istri sampai siwak (membersihkan gigi) yang diberikan panduannya oleh Rasulullah SAW.
Sayangnya, banyak orang muslim tak benar-benar menerapkan anjuran Rasulullah. Bahkan tak sedikit kaum muslim yang mengerti tata cara yang dibenarkan dalam Islam untuk urusan-urusan kehidupan mereka. Karena itu, ada baiknya kita pelajari sedikit dari sekian banyak prilaku Rasulullah SAW agar kita mengetahui bagaimana seharusnya seorang muslim. Berikut sebagian prilaku Rasulullah SAW:
  1. Memulai dari  yang kanan; Rasulullah adalah orang yang mengajarkan kita memulai segala sesuatu dari sebelah kanan. Beliau memakai pakaian dengan memulakan dari sebelah kanan anggota tubuhnya dan menanggalkan dari sebelah kiri. Ibunda kaum Mukminin, Aisyah pernah mengungkapkan, “Sesungguhnya Rasulullah menyenangi memulai bersuci dari anggota badanya yang sebelah kanan, juga ketika bersisir dan ketika memakai alas kaki”.
  2. Cara berpakaian; Apabila Rasulullah memakai pakaian baru, maka disebutkanlah namanya (misalnya surban atau gamis) lalu beliau berdoa, “Ya Allah, hanya bagimu segala puji, sebagaimana Engkau beri aku pakaian, aku mohon pada-Mu kebaikannya, dan kebaikan bahan yang dibikin. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan keburukan bahan yang dibikin.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai). Kadang Rasulullah mengennakan kian warna merah, hijau, atau kuning namun beliau lebih menyukai warna putih. “Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu kalian hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian waktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik-baik pakaian bagi kalian”. (Riwayat Abu Dauwud, Ibnu Majah, Tirmidzi)
  3. Cara makan; Abu Ayub al-Anshari RA bercerita, “Pada suatu hari, kami berda di rumah rasulullah, maka beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan mana yang paling banyak berkahnya ada saat kami mulai makan atau di bagian paling terakhir”. Abu Ayub kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, Bagaimana caranya hal ini bisa terjadi?” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kami membaca nama Allah jika akan makan, kemudian duduklah. Seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makanannya disertai setan”. (Diriwayatkan oleh Qutaibah dari ibnu bin Jandal dari Hubeib bin Aus yang bersumber dari Abu Ayub al-Anshari)
  4. Cara minum; Anas bin Malik menceritakan, “sesungguhnya nabi menarik nafas tiga kali pada bejana/gelas bila beliau sedang minum”. Beliau bersabda, “Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan”. (Riwayat Muslim , Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai).
  5. Cara bicara; Aisyah  mengabarkan, “Rasulullah tidak berbicara cepat sebagaimana kalian. Tetapi beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang duduk bersamanya dapat menghafal kata-katanya”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  6. Gurauan; Baik gurauan maupun ungkapansyair yang disampaikan Rasulullah adalah berisi kebenaran. Rasulullah tidak pernah menyelipkan kebohongan saat bergurau, agar orang tertawa, sebagaimana dilakukan banyak orang. Abu Hurairah berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Apakah engkau suka bergurau kepada kami? Beliau bersabda, Ya. Tetapi apa yang kukatakana (saat bergurau) tidak lain kecuali hanya kebenaran”. (Riwayat Tirmidzi)
  7. Cara membaca Al-Qur’an; Qatadah berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra, Bagaimanakah bacaan (Al-Qur’an) Rasulullah? Ia menjawab, Bermakna (bertajwid)”. (Riwayat Bukhari, Nasai, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  8. Baik kepada pekerja; Anas bin Malik bercerita, “Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun. (Selama itu) beliau tidak pernah mengatakan, Uf! (hus). Dan tidak pernah pula mengugatku karena sesuatu yang aku kerjakan (dengan perkataan), Mengapa kau kerjakan begini? Dan tidak pula (mengugat) karena ada sesuatu yang tidak aku kerjakan (dengan perkataan) Mengapa tidak kau kerjakan?” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi).

Demikian sebagian kecil dari sekian banyak akhlak mulia Rasulullah yang patut kita contoh.