Senin, 29 Juli 2013

Pintu-Pintu Kemaksiatan


Dalam mengarungi kehidupan di dunia, manusia akan dihadapkan dengan berbagai ujian dan cobaan. Barangsiapa yang mampu menjaga dirinya dan terus istiqomah diatas agamanya, maka dialah orang yang akan bahagia. Adapun orang yang terseret dan tergoda oleh godaan hawa dan nafsu, inilah orang yang akan celaka. Oleh karenanya, hendaknya seorang mukmin mengetahui pitu-pintu yang menjadi jalan bagi syaitan dalam menjerumuskan manusia, sehingga ia selalu waspada dan menjaga diri. Adapun pitu kemaksiatan tersebut antara lain:

1. Pandangan
Pandangan merupakan kenikmatan sekaligus amnah dari Allah swt. Menjaganya merupakan tindakan utama dalam menjaga kemaluan. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka dia telah menggiring dirinya kedalam kebinasaan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menjaga pandangan mereka. Sebagaimna dalam firmannya dalam An-Nur ayat 30-31
Yang artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan jaganlah mereka menampakkan perhiasan, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya…”
Pandangan merupakan pangkal dari segala bencana yang menimpa manusia. Karena pandangan akan melahirkan getaran hati, diikuti dengan angan-angan yang membangkitkan syahwat dan keinginan yang semakin menguat dan akhirnya menjadi kebulatan tekat, hingga terjadilah perbuatan itu secara pasti, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya. Maka sungguh benar orang yang mengatakan: “Kesabaran dalam menundukkan pandangan lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung akibatnya.”
Pandangan seseorang ibarat anak panah yang jika sampai pada sasaran (apa yang dipandang), akan menempati suatu tempat adalam relung hati orang yang memandang tersebut. Ibnul Qayyim berkata: “Wahai orang yang bersungguh-sungguh melontarkan panah pandangan, engkaulah korban terbunuh dari apa yng engkau lontarkan, jika tidak mengenai sasaran. Wahai pengutus pandangan yang sedang mencari kesembuhan baginya, tahanlah utusanmu agar tidak dating membawa kebiasaan.”
Beliau juga mengatakan: “ketahuilah bahwasanya pandangan itu bisa melukai hati dengan luka yang mendalam,” kemudian beliau bersyair:
Engkau selalu mengikuti pandangan
             terhadap sesuatu yang elok lagi menawan
Engkau menyangka hal itu penawar luka yang engkau rasa,
             namun ternyata hanya menambah luka di atas luka

 
2. Bisikan Jiwa
Allah ta’ala menciptakan dua jiwa dalam diri seorang manusia: jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan dan jiwa yang tentram. Keduanya saling berlawanan. Jika ringan salah satunya, maka akan berat lainnya. Jika salah satunya merasakan kelezatan, maka yang lainnya akan merasakan kepedihan. Tidak ada lebih berat bagi jiwa yang selalu mengajak keburukan selain beramal karena Allah, serta mendahulukan ridha-Nya di atas hawa nafsu. Padahal tidak ada yang lebih bermanfaat untuk pelakunya disbanding hal ini. Sebaliknya, tidak ada yang lebih berat bagi jiwa yang tentram selain beramal untuk selain Alllah. Allah ta’ala berfirman dalam surat Yusuf ayat 53:
Yang artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dari pitu inilah syaitan selalu mengoda manusia. Karena bisikan jiwa akan melahirkan keinginan dan tekad. Oleh sebab itu, siapa yang menjaga bisikan jiwanya niscaya mampu mengendalikan diri dan mengekang hawa nafsunya. Sebaliknya, siapa yang dikalahkan oleh bisikan jiwanya pasti akan tunduk kepada jiwa dan hawa nafsunya. Bahkan barangsiapa yang meremehkan bisikan jiwa, maka bisikan tersebut akan menggiringnya secara paksa menuju kebiasaan.
 
3. Ucapan
Mu’adz radhiyallahuanhu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi SAW amal perbuatan yang memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka. Nabi SAW pun mengabarkan kepadanya perihal pokok semua urusan, penopangnya, serta puncaknya. Setelah itu beliau bersabda: “Maukah kuberitahu mengenai penguat sekaligus yang mengokohkan semua itu?” Mu’adz menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah memegang lisannya kemudian berkata: “Tahanlah ini.” Mu’adz bertanya: “Apakah kita mendapat hukuman disebabkan apa yang kita ucapkan?” Nabi SAW bersabda: “Celaka engkau, wahai Muadz,. Bukankah yang menelungkupkan manusia di atas wajah-wajah atau hidung mereka (di neraka) adalah karena perbuatan lisan-lisan mereka?” (HR. at-Tirmidzi)
Namun kendati demikian besar akibatnya yang dibawa oleh perkataan, begitu banyak orang yang tidak memperhatikan apa yang di ucapkan oleh lisan.
 
4. Langkah Kaki
Ketergelinciran ada dua macam: ketergelinciran kaki dan ketergelinciran lisan. Salah satunya didatangkan sebagai pasangan yang lain, sebagaimana pada firman Allah ketika mengambarkan kondisi hamba Allah dengan keistiqomahan dalam upaya dan langkahnya:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan ayat 63)
Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga langkah-langkah kakinya agar tidak mudah terbawa dalam godaan dan rayuan syaitan.
Ibnu Qayyim mengatakan: “menjaga langkah kaki dilakukan dengan cara tidak melangkahkannya kecuali untuk perkara yang dapat mendatangkan pahala.”


dikutip dari tulisan: Agus Suranto (FKM STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya)

Selasa, 02 Juli 2013

Silaturrahim Kunci Kebangkitan Umat (Hilangkan Ego, Bangun Silaturrahim)


Kemunduran umat Islam yang dirasakan sekarang ini salahsatu penyebabnya karena kestuan dan persatuan umat yang rapuh. Alih-alih sinergi dalam satu visi kebangkitan, umat Islam justru kini merasa betah dengan kondisi terpolarisasi. Rasa cinta kepada sesama Muslim nampaknya semakin menipis. Tradisi silaturrahim nampaknya menjadi barang langka. Umat Islam terjebak dengan kepentingan pragmatis individual dan golongan.

Hati kaum Muslimin hari ini nampak gersang dan meranggkas karena telah terjebak ikatan-ikatan primordialisme pragmatis dan melepaskan ikatan akidah. Perbedaan partai dan semua jenis organisasi telah memecah belah umat Islam. Umat Islam yang secara normativif sebagai umat terbaik yang dilahirkan di dunia dan secara historis telah terbukti, kini secara empiris justru sebaliknya. Umat Islam telah mengalami disorientasi akut: sekuler dan prakmatis. Kekalahan kaum Muslimin dalam perang Uhud seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk tidak terulang kembali.
Putusnya tali silaturrahim menjadi awal malapetaka kehancuran umat Islam, karena daya rekat umat tak lagi ada. Penyatuaan Muhajirin dan Anshar oleh Rasulullah sesungguhnya menjadi tonggak sejarah persatuan umat Islam dengan menghidupkan budaya silaturrahim dan saling menjalin tali persaudaraan.
Saat para tokoh Islam memperbanyak silaturrahim merajut hati dan cinta. Disaat cinta melingkupi sesama Muslim inilah pintu-pintu rahmat Allah akan terbuka. Sebab, sungguh kecinntaan Allah kepada umat Islam adlah ketika sesama Muslim saling menjalin cinta dan kasih sayang dengan sesamanya.
Jika telah demikian kondisinya, tunggulah saat manusia akan berbondong-bondong memeluk Islam sebagaimana janji Allah dan terukir indah dalam sejarah kenabian. Sudah saatnya Islam mengambil peran mewujudkan visi kemuliaan dan kemajuan di tengah dunia hari ini yang semakin carut marut menuju kehancuran. Karena itu wahai pewaris agama tauhid, bersatulah dengan memegang tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai. Budayakan silaturrahim dengan semangat menjalin cinta dan jaringan akan menjadi energi kuat untuk membangun persatuan dan kesatuan umat Islam.

(dikutip dari tulisan Dr. Ahmad Sastrta, dosen Filsafat Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Laa Roiba, Bogor, Jawa Barat)

Rabu, 09 Januari 2013

Jadilah Seorang Mukmin Seperti Gandum



Dalam sebuah hadis Anas bin Malik, Rasulullah pernah bersabda, “Perumpamaan seorang mukmin itu seperti setangkai gandum, terkadang condong terkadang tegak”. (Riwayat Abu Ya’la. Isnadnya hasan)
Untuk mengetahuai maksud diatas, coba kita perhatikan lading gandum atau padi. Ketika angina bertiup lembut, tangkai mayangnya melambai-lambai dengan anggun. Ketika angina kembali tenang, mereka tegak lagi dengan indahnya. Bila angina bertup lebih keras yang sanggup mematahkan cabang-cabang pohon besar dan bahkan mencabutnya sampai ke akar, pohon gandum dan padi ternyata juga rebah, akan tetapi akarnya tidak tercabut. Maka demikianlah seharusnya seorang mukmin. Dimana ujian dan cobaan menerpanya dari segala penjuru dan terkadang dia harus terjatuh namun keyakinannya kepada Allah tifdak pernah gugur.
Seorang mukmin memiliki prinsip-prinsip yang terang dalam menjalani kehidupannya, karena setiap sikapnya dilandasi ilmu dan keyakinan. Ia tidak sekedar ikut-ikutan, apalagi terhanyut oleh trend dan mode. Maka dalam segala situasi dia mantap dan percaya diri, karena tahu betul bahwa dirinya berada di atas kebenaran.
Sekilas mungkin dia bisa terkesan sombong. Namun, ada perbedaan besar antara kesombongan dengan keyakinan. Kesombongan dilandasi penolakan terhadap kebenaran dan dikobarkan oleh nafsu untuk meremehkan sesama, sementara keyakinan didasri oleh ilmu dan iman. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya ada kesombongan walau seberat biji sawi”. Ada yang berkata, “Sungguh seseorang itu ingin bajunya bagus, demikian pula sandalnya”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah, Dia pun mencintai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain”. (Riwayat Muslim)
Sebaliknya, keteguhan seorang mukmin adalah refleksi iman, sebagai pengamalan dari sabda Rasulullah ini, “Janganlah kalian menjadi orang yang plin-plan, yang berkata: jika orang baik kami pun baik; jika mereka zhalim kamipun zhalim. Akan tetapi teguh dari kalian. Jika mereka baik, hendaknya kalian pun baik, dan jika mereka berbuat keburukan, maka janganlah kalian ikut menjadi zhalim”. (Riwayat at-Tirmidzi dan al-Bazzar, dari Hudzaifah. Hadis hasan-gharib)
Inilah yang disebut shiddiq, salah satu sifat yang sangat mulia. Secara bahasa shiddiq artinya jujur dan benar. Apa yang dimaksud jujur dan benar di sini tidak hanya perkataan, namun lebih luas lagi. Kejujuran seorang shiddiq juga juga terlihat dalam perbuatannya, tindak-tanduknya, isi hatinya, pikirannya, cita-citanya, dan seterusnya. Pendeknya, seluruh aspek kepribadiannya adalah jujur dan benar, bukan kebohongan dan rekayasa. Ia adalah muslim ketika sendirian maupun di hadapan orang banyak.
Ia adalah orang baik-baik, entah saat lapang atau sempit, saat berkuasa atau saat menjadi rakyat jelata. Ada kesempatan maupun tidak, dia tetaplah orang yang sama baiknya. Tentu saja, seseorang yang tiba-tiba menjadi baik dan dekat dengan masyarakat menjelang Pemilu dan Pilkada, bukan penyandang sifat shiddiq, kecuali jika sudah seperti itu sejak dulu, dan akan tetap demikian sampai akhir hayatnya. Kita dapat menyebut seorang mukmin sebagai pribadi yang memiliki integritas tinggi.


Senin, 07 Januari 2013

Rasulullah SAW Sebagai Teladan Sehari-hari



Allah telah memilih dan mengangkat para rasul yang diberi wahyu tentang peraturan hidup yang dapat membimbing manusia menempuh jalan hidup yang lurus dan benar. Melalui Nabi Muhammad SAW, Islam mengatur segala hal, bahkan hingga masalah kecil dan remeh yang tak pernah dibayangkan akan dibahas. Mulai dari bersuci, berhubungan suami istri sampai siwak (membersihkan gigi) yang diberikan panduannya oleh Rasulullah SAW.
Sayangnya, banyak orang muslim tak benar-benar menerapkan anjuran Rasulullah. Bahkan tak sedikit kaum muslim yang mengerti tata cara yang dibenarkan dalam Islam untuk urusan-urusan kehidupan mereka. Karena itu, ada baiknya kita pelajari sedikit dari sekian banyak prilaku Rasulullah SAW agar kita mengetahui bagaimana seharusnya seorang muslim. Berikut sebagian prilaku Rasulullah SAW:
  1. Memulai dari  yang kanan; Rasulullah adalah orang yang mengajarkan kita memulai segala sesuatu dari sebelah kanan. Beliau memakai pakaian dengan memulakan dari sebelah kanan anggota tubuhnya dan menanggalkan dari sebelah kiri. Ibunda kaum Mukminin, Aisyah pernah mengungkapkan, “Sesungguhnya Rasulullah menyenangi memulai bersuci dari anggota badanya yang sebelah kanan, juga ketika bersisir dan ketika memakai alas kaki”.
  2. Cara berpakaian; Apabila Rasulullah memakai pakaian baru, maka disebutkanlah namanya (misalnya surban atau gamis) lalu beliau berdoa, “Ya Allah, hanya bagimu segala puji, sebagaimana Engkau beri aku pakaian, aku mohon pada-Mu kebaikannya, dan kebaikan bahan yang dibikin. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan dan keburukan bahan yang dibikin.” (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi dan an-Nasai). Kadang Rasulullah mengennakan kian warna merah, hijau, atau kuning namun beliau lebih menyukai warna putih. “Hendaklah kalian berpakaian putih, untuk dipakai sewaktu kalian hidup. Dan jadikanlah ia kain kafan kalian waktu kalian mati. Sebab kain putih itu sebaik-baik pakaian bagi kalian”. (Riwayat Abu Dauwud, Ibnu Majah, Tirmidzi)
  3. Cara makan; Abu Ayub al-Anshari RA bercerita, “Pada suatu hari, kami berda di rumah rasulullah, maka beliau menyuguhkan suatu makanan. Aku tidak mengetahui makanan mana yang paling banyak berkahnya ada saat kami mulai makan atau di bagian paling terakhir”. Abu Ayub kemudian bertanya, “Wahai Rasulullah, Bagaimana caranya hal ini bisa terjadi?” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya kami membaca nama Allah jika akan makan, kemudian duduklah. Seseorang yang makan tanpa menyebut nama Allah, maka makanannya disertai setan”. (Diriwayatkan oleh Qutaibah dari ibnu bin Jandal dari Hubeib bin Aus yang bersumber dari Abu Ayub al-Anshari)
  4. Cara minum; Anas bin Malik menceritakan, “sesungguhnya nabi menarik nafas tiga kali pada bejana/gelas bila beliau sedang minum”. Beliau bersabda, “Cara seperti ini lebih menyenangkan dan menimbulkan kepuasan”. (Riwayat Muslim , Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai).
  5. Cara bicara; Aisyah  mengabarkan, “Rasulullah tidak berbicara cepat sebagaimana kalian. Tetapi beliau berbicara dengan kata-kata yang jelas dan tegas. Orang yang duduk bersamanya dapat menghafal kata-katanya”. (Riwayat Bukhari dan Muslim)
  6. Gurauan; Baik gurauan maupun ungkapansyair yang disampaikan Rasulullah adalah berisi kebenaran. Rasulullah tidak pernah menyelipkan kebohongan saat bergurau, agar orang tertawa, sebagaimana dilakukan banyak orang. Abu Hurairah berkata, “Mereka (para sahabat) bertanya, Wahai Rasulullah, Apakah engkau suka bergurau kepada kami? Beliau bersabda, Ya. Tetapi apa yang kukatakana (saat bergurau) tidak lain kecuali hanya kebenaran”. (Riwayat Tirmidzi)
  7. Cara membaca Al-Qur’an; Qatadah berkata, “Aku bertanya kepada Anas bin Malik ra, Bagaimanakah bacaan (Al-Qur’an) Rasulullah? Ia menjawab, Bermakna (bertajwid)”. (Riwayat Bukhari, Nasai, Abu Dawud dan Ibnu Majah)
  8. Baik kepada pekerja; Anas bin Malik bercerita, “Aku menjadi pembantu Rasulullah selama sepuluh tahun. (Selama itu) beliau tidak pernah mengatakan, Uf! (hus). Dan tidak pernah pula mengugatku karena sesuatu yang aku kerjakan (dengan perkataan), Mengapa kau kerjakan begini? Dan tidak pula (mengugat) karena ada sesuatu yang tidak aku kerjakan (dengan perkataan) Mengapa tidak kau kerjakan?” (Riwayat Abu Dawud, Tirmidzi).

Demikian sebagian kecil dari sekian banyak akhlak mulia Rasulullah yang patut kita contoh.