Dalam mengarungi kehidupan di dunia, manusia akan dihadapkan dengan berbagai ujian dan cobaan. Barangsiapa yang mampu menjaga dirinya dan terus istiqomah diatas agamanya, maka dialah orang yang akan bahagia. Adapun orang yang terseret dan tergoda oleh godaan hawa dan nafsu, inilah orang yang akan celaka. Oleh karenanya, hendaknya seorang mukmin mengetahui pitu-pintu yang menjadi jalan bagi syaitan dalam menjerumuskan manusia, sehingga ia selalu waspada dan menjaga diri. Adapun pitu kemaksiatan tersebut antara lain:
1. Pandangan
Pandangan merupakan kenikmatan sekaligus amnah dari Allah swt. Menjaganya merupakan tindakan utama dalam menjaga kemaluan. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka dia telah menggiring dirinya kedalam kebinasaan. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kaum muslimin untuk menjaga pandangan mereka. Sebagaimna dalam firmannya dalam An-Nur ayat 30-31
Yang artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman: Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan jaganlah mereka menampakkan perhiasan, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutup kain kudung ke dadanya…”
Pandangan merupakan pangkal dari segala bencana yang menimpa manusia. Karena pandangan akan melahirkan getaran hati, diikuti dengan angan-angan yang membangkitkan syahwat dan keinginan yang semakin menguat dan akhirnya menjadi kebulatan tekat, hingga terjadilah perbuatan itu secara pasti, selama tidak ada penghalang yang menghalanginya. Maka sungguh benar orang yang mengatakan: “Kesabaran dalam menundukkan pandangan lebih ringan daripada kesabaran dalam menanggung akibatnya.”
Pandangan seseorang ibarat anak panah yang jika sampai pada sasaran (apa yang dipandang), akan menempati suatu tempat adalam relung hati orang yang memandang tersebut. Ibnul Qayyim berkata: “Wahai orang yang bersungguh-sungguh melontarkan panah pandangan, engkaulah korban terbunuh dari apa yng engkau lontarkan, jika tidak mengenai sasaran. Wahai pengutus pandangan yang sedang mencari kesembuhan baginya, tahanlah utusanmu agar tidak dating membawa kebiasaan.”
Beliau juga mengatakan: “ketahuilah bahwasanya pandangan itu bisa melukai hati dengan luka yang mendalam,” kemudian beliau bersyair:
Engkau selalu mengikuti pandangan
terhadap sesuatu yang elok lagi menawan
Engkau menyangka hal itu penawar luka yang engkau rasa,
namun ternyata hanya menambah luka di atas luka
2. Bisikan Jiwa
Allah ta’ala menciptakan dua jiwa dalam diri seorang manusia: jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan dan jiwa yang tentram. Keduanya saling berlawanan. Jika ringan salah satunya, maka akan berat lainnya. Jika salah satunya merasakan kelezatan, maka yang lainnya akan merasakan kepedihan. Tidak ada lebih berat bagi jiwa yang selalu mengajak keburukan selain beramal karena Allah, serta mendahulukan ridha-Nya di atas hawa nafsu. Padahal tidak ada yang lebih bermanfaat untuk pelakunya disbanding hal ini. Sebaliknya, tidak ada yang lebih berat bagi jiwa yang tentram selain beramal untuk selain Alllah. Allah ta’ala berfirman dalam surat Yusuf ayat 53:
Yang artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dari pitu inilah syaitan selalu mengoda manusia. Karena bisikan jiwa akan melahirkan keinginan dan tekad. Oleh sebab itu, siapa yang menjaga bisikan jiwanya niscaya mampu mengendalikan diri dan mengekang hawa nafsunya. Sebaliknya, siapa yang dikalahkan oleh bisikan jiwanya pasti akan tunduk kepada jiwa dan hawa nafsunya. Bahkan barangsiapa yang meremehkan bisikan jiwa, maka bisikan tersebut akan menggiringnya secara paksa menuju kebiasaan.
Allah ta’ala menciptakan dua jiwa dalam diri seorang manusia: jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan dan jiwa yang tentram. Keduanya saling berlawanan. Jika ringan salah satunya, maka akan berat lainnya. Jika salah satunya merasakan kelezatan, maka yang lainnya akan merasakan kepedihan. Tidak ada lebih berat bagi jiwa yang selalu mengajak keburukan selain beramal karena Allah, serta mendahulukan ridha-Nya di atas hawa nafsu. Padahal tidak ada yang lebih bermanfaat untuk pelakunya disbanding hal ini. Sebaliknya, tidak ada yang lebih berat bagi jiwa yang tentram selain beramal untuk selain Alllah. Allah ta’ala berfirman dalam surat Yusuf ayat 53:
Yang artinya: “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Dari pitu inilah syaitan selalu mengoda manusia. Karena bisikan jiwa akan melahirkan keinginan dan tekad. Oleh sebab itu, siapa yang menjaga bisikan jiwanya niscaya mampu mengendalikan diri dan mengekang hawa nafsunya. Sebaliknya, siapa yang dikalahkan oleh bisikan jiwanya pasti akan tunduk kepada jiwa dan hawa nafsunya. Bahkan barangsiapa yang meremehkan bisikan jiwa, maka bisikan tersebut akan menggiringnya secara paksa menuju kebiasaan.
3. Ucapan
Mu’adz radhiyallahuanhu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi SAW amal perbuatan yang memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka. Nabi SAW pun mengabarkan kepadanya perihal pokok semua urusan, penopangnya, serta puncaknya. Setelah itu beliau bersabda: “Maukah kuberitahu mengenai penguat sekaligus yang mengokohkan semua itu?” Mu’adz menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah memegang lisannya kemudian berkata: “Tahanlah ini.” Mu’adz bertanya: “Apakah kita mendapat hukuman disebabkan apa yang kita ucapkan?” Nabi SAW bersabda: “Celaka engkau, wahai Muadz,. Bukankah yang menelungkupkan manusia di atas wajah-wajah atau hidung mereka (di neraka) adalah karena perbuatan lisan-lisan mereka?” (HR. at-Tirmidzi)
Mu’adz radhiyallahuanhu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi SAW amal perbuatan yang memasukkannya ke dalam surga dan menjauhkannya dari neraka. Nabi SAW pun mengabarkan kepadanya perihal pokok semua urusan, penopangnya, serta puncaknya. Setelah itu beliau bersabda: “Maukah kuberitahu mengenai penguat sekaligus yang mengokohkan semua itu?” Mu’adz menjawab: “Tentu wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah memegang lisannya kemudian berkata: “Tahanlah ini.” Mu’adz bertanya: “Apakah kita mendapat hukuman disebabkan apa yang kita ucapkan?” Nabi SAW bersabda: “Celaka engkau, wahai Muadz,. Bukankah yang menelungkupkan manusia di atas wajah-wajah atau hidung mereka (di neraka) adalah karena perbuatan lisan-lisan mereka?” (HR. at-Tirmidzi)
Namun kendati demikian besar akibatnya yang dibawa oleh perkataan, begitu banyak orang yang tidak memperhatikan apa yang di ucapkan oleh lisan.
4. Langkah Kaki
Ketergelinciran ada dua macam: ketergelinciran kaki dan ketergelinciran lisan. Salah satunya didatangkan sebagai pasangan yang lain, sebagaimana pada firman Allah ketika mengambarkan kondisi hamba Allah dengan keistiqomahan dalam upaya dan langkahnya:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan ayat 63)
Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga langkah-langkah kakinya agar tidak mudah terbawa dalam godaan dan rayuan syaitan.
Ibnu Qayyim mengatakan: “menjaga langkah kaki dilakukan dengan cara tidak melangkahkannya kecuali untuk perkara yang dapat mendatangkan pahala.”
Ketergelinciran ada dua macam: ketergelinciran kaki dan ketergelinciran lisan. Salah satunya didatangkan sebagai pasangan yang lain, sebagaimana pada firman Allah ketika mengambarkan kondisi hamba Allah dengan keistiqomahan dalam upaya dan langkahnya:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan ayat 63)
Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga langkah-langkah kakinya agar tidak mudah terbawa dalam godaan dan rayuan syaitan.
Ibnu Qayyim mengatakan: “menjaga langkah kaki dilakukan dengan cara tidak melangkahkannya kecuali untuk perkara yang dapat mendatangkan pahala.”
dikutip dari tulisan: Agus Suranto (FKM STAI Ali Bin Abi Thalib Surabaya)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar