Kemunduran umat Islam yang dirasakan sekarang ini salahsatu penyebabnya karena kestuan dan persatuan umat yang rapuh. Alih-alih sinergi dalam satu visi kebangkitan, umat Islam justru kini merasa betah dengan kondisi terpolarisasi. Rasa cinta kepada sesama Muslim nampaknya semakin menipis. Tradisi silaturrahim nampaknya menjadi barang langka. Umat Islam terjebak dengan kepentingan pragmatis individual dan golongan.
Hati kaum Muslimin hari ini nampak gersang dan meranggkas karena telah terjebak ikatan-ikatan primordialisme pragmatis dan melepaskan ikatan akidah. Perbedaan partai dan semua jenis organisasi telah memecah belah umat Islam. Umat Islam yang secara normativif sebagai umat terbaik yang dilahirkan di dunia dan secara historis telah terbukti, kini secara empiris justru sebaliknya. Umat Islam telah mengalami disorientasi akut: sekuler dan prakmatis. Kekalahan kaum Muslimin dalam perang Uhud seharusnya menjadi pelajaran berharga untuk tidak terulang kembali.
Putusnya tali silaturrahim menjadi awal malapetaka kehancuran umat Islam, karena daya rekat umat tak lagi ada. Penyatuaan Muhajirin dan Anshar oleh Rasulullah sesungguhnya menjadi tonggak sejarah persatuan umat Islam dengan menghidupkan budaya silaturrahim dan saling menjalin tali persaudaraan.
Saat para tokoh Islam memperbanyak silaturrahim merajut hati dan cinta. Disaat cinta melingkupi sesama Muslim inilah pintu-pintu rahmat Allah akan terbuka. Sebab, sungguh kecinntaan Allah kepada umat Islam adlah ketika sesama Muslim saling menjalin cinta dan kasih sayang dengan sesamanya.
Saat para tokoh Islam memperbanyak silaturrahim merajut hati dan cinta. Disaat cinta melingkupi sesama Muslim inilah pintu-pintu rahmat Allah akan terbuka. Sebab, sungguh kecinntaan Allah kepada umat Islam adlah ketika sesama Muslim saling menjalin cinta dan kasih sayang dengan sesamanya.
Jika telah demikian kondisinya, tunggulah saat manusia akan berbondong-bondong memeluk Islam sebagaimana janji Allah dan terukir indah dalam sejarah kenabian. Sudah saatnya Islam mengambil peran mewujudkan visi kemuliaan dan kemajuan di tengah dunia hari ini yang semakin carut marut menuju kehancuran. Karena itu wahai pewaris agama tauhid, bersatulah dengan memegang tali agama Allah dan janganlah bercerai-berai. Budayakan silaturrahim dengan semangat menjalin cinta dan jaringan akan menjadi energi kuat untuk membangun persatuan dan kesatuan umat Islam.
(dikutip dari tulisan Dr. Ahmad Sastrta, dosen Filsafat Islam di Sekolah Tinggi Agama Islam Laa Roiba, Bogor, Jawa Barat)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar